Wednesday, June 4, 2008

FPI vs AKBB: Mari menatap, mari meratap, mari berskap

Salam,

Kali ini saya posting yg bukan masalah kesehatan & kedokteran...
Karena prihatin juga dengan isu bangsa...
(Dipublikaan juga di Harian Umum Padang Ekspress, 9 Juni 2008: http://www.padangekspres.co.id/content/view/8597/80/)

Dalam beberapa hari ini sejak 2 Juni 2008 yang lalu sedang gemparnya media massa akibat bentrok nya FPI/KLI dengan AKBB..

Komentar saya: Be Fair, Be Objective...

Pertama: Mari mentap...
(BACA: JUJUR dengan kenyataan).

Dulu saya berfikir; mengapa ya Fatah dan Hamas di Palestina nggak bisa akur. Kemudian, saya coba sekikit telusuri dan baca-baca, ternyata memang sulit untuk disatukan karena terlalau banyak perbedaan prinsip yang meraka punyai, tidak hanya cara mereka berjuang, mungkin bisa dikatakan Ideologinya pun hampir-hampir berbeda.

Jangankan itu, beberapa hari terakhir melihat pemberitaan kemarin ‘Perseteruan antara FPI dan AKKBB’ yang tidak hanya adu otak, tapi sudah adu otot. Bahkan juga melibatkan orang-orang terdidik di ormas-ormas Islam. Tanpa menyebutkan tokoh ormas yang terlibat, saya jadi berfikir lagi, ini baru organisasi yang boleh dikatakan, tidak banyak perbedaan, hanya masalah "Cara," tapi sungguh sulit disatukan, apalagi sebuah organisasi besar yang melibatkan lintas negara.

Sebenarnya, kalau kita amati perkembangannya, dari tahun ke tahun yang ada di media, pemojokan dari FPI kemaren hanyalah 'Sebuah moment" yang tepat yang dugunakan oleh kelompok-kelompok yangg berseberangan. Intinya kalau kita mau jujur "Tidak ada pun peristiwa itu, anggapan kelompok yang berseberangan teerhadap FPI adalah tetap salah, keras dan bringas.

Tambahan, harus jujur lagi bahwa, aksi yang diadakan AKKBB adalah aksi terbuka melalui media massa, yang mengundang ormas lain, intinya FPI juga bisa datang sebagai tamu dalam acara itu. Kita tentu tidak tau, apakah ini siasat atau di media ada yang lupa ditulis ‘Semua ormas diundang kecuali FPI dan yang se-ide dangan-nya.’ Buktinya, ada anggota AKKBB yang sudah bersiap siaga dengan senjata. Dengan kedatangan FPI pada hari dan tempat yang sama AKKBB 'lupa' akan undangan-nya, dan menganggap ada aksi tandingan. Jadi FPI bukan tamu yang layak dihormati. Karena sudah ada min-set nggak mungkin FPI mau bergabung dengan aksi yang mereka lakukan.

Sebaliknya, kita harus jujur juga, apakah FPI (dan KLI) datang untuk memenuhi undangan atau memang "Sudah siaga' untuk mempersiapkan tandingan. Karena dari awal FPI memang sudah dengan keras menolak Ahmadiyah dan aksi-aksi dari organisasi yang mendukungnya. Intinya, sudah ada mind-set di kelompok masing-masing.

Mari Meratap dan Bersikap: Renungkan sikap Kita dan Cari Solusi

Renungkan dan adakah solusi dari kita, atau jangan-jangan kita (saya dan anda) juga sudah punya mind-set sendiri dan tidak terpengaruh argumentasi dan kenyataan? Atau jangan-jangan berbagai diskusi yang kita lakukan 'Hanyalah tempat melontarkan pendapat" dan "bukan merupakan wadah untuk mendengarkan dan melihat ide orang lain. "Idealnya diskusi adalah 'tukar pendapat, saling memberi dan saling menerima."

Memang boleh jadi, bila kita 'menghujat FPI' juga karena 'dari dasarnya' kita sudah berfikir begitu, tanpa mau melihat secara utuh. Berita-berita yang muncul kemudian, cuma hanya menjadi konfirmasi untuk ansumsi kita, tanpa harus menelaah labih jauh. Kalau ada yang salah dengan mereka, kita akan langsung berkata "Nah gue bilang juga apa.”

Namun, kalau saya amati Polemik dan perbedaan argumentasi tentang masalah ini, baik yang 'Kelihatan-nya membela FPI' atau 'Kelihatan menghujat FPI dan membela AKKBB & Ahmadiyah,' sebanranya ada satu inti yang bias disepakati: Adili yang salah, hentikan kekerasan, hormati kebebasan TAPI Jangan Nodai akidah Islam.' Menurut hemat saya, kita bisa bertemu di titik itu.

Akhir kata, adalah keterlalauan (melampaui batas), bila untuk mencapai tujuan mulia dengan cara kekerasan, dan tidak menunjukkan keteladanan. Adalah juga keterlalauan, bila atas nama kebebasan menistakan, merendahkan dan melukai orang lain. Adalah keterlaluan menganggap MUI mencampuri 'ranah wilayah konstitusi' ketika mengeluarkan fatwa sesatnya Ahmadiyah, padahal ia hanya mengeluarkan fatwa (nasehat dan pemberitahuan pada umat Islam) untuk tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Memang benar, siapa saja di tanah Indonesia dengan asas, boleh mengikuiti boleh tidak, dan tidak ada konsekuensi hukum. Tapi, sekali lagi adalah keterlaluan, kalau MUI pun dihujat. (***)

Salam,
Hardi
-----------------------------

No comments:

Mari Dapatkan Keuntungan Disini

Copy Right: Hardisman 2007