Thursday, June 26, 2008

Menara Gading” Profesi Kedokteran: Antara Harapan dan Realita

"Sebuah Kontemplasi dan Autokritik"
(Media PADANG-KINI, 29 Juni 2008)

Harapan dan Cita-Cita Kita Sebenarnya
Secara umum citra profesi ini masih berada dalam kelompok profesi yang mempunyai citra yang tidak jatuh begitu dalam dimata masyarakat. Namun profesi ini juga telah menjadi sorotan miring dan negative.

Fakultas Kedokteran sebagai suatu institusi, sesungguhnya mempunyai tujuan dan jati diri yang luhur. Fakultas Kedokteran lahir sebagai tuntutan kondisi masyarakat yang yang masih bertumpuknya masalah kesehatan. Ia hadir untuk ikut langsung menuntaskan masalah-masalah penyakit infeksi yang tak kunjung selesai serta penyakit kronik degeneratif yang mulai menggunung. Sehingga secara tertulis dan teoritis, Fakultas Kedokteran bertujuan untuk melahirkan dokter yang mempunayi ilmu dan skill medis dan klinis yang baik, bermoral dan ber-etika serta berwawasan luas. Idealis memang, namun begitukah cita-cita luhur hadirnya, dan harapan setiap lulusannya. Dengan istilah yang lebih popular dalam pendidikan kedokteran, Fakultas kedokteran bertujuan melahirkan dokter yang “Professionally Qualified, Socially and culturally acceptable.”

Saat ini, juga masih banyak orang tua yang mengidam-idamkan agar anaknya kelak menjadi dokter. Tidak jauh berbeda, bila ditanyakan pada anak-anak yang yang masih di sekolah dasar apakah cita-cita mereka, maka diantara jawaban mereka selain menjadi pilot, ahli computer dan president; menjadi dokter juga salah satu cita-cita mereka. Ini menjadi bukti bahwa, dari sedikit noda yang dimiliki profesi ini, ia tetap menjadi salah satu impian.

Banyak motif dan harapan mengapa seorang orang tua ingin anaknya menjadi dokter. Dan banyak juga alasan mengapa seorang tamatan SLTA mendaftar untuk masuk Fakultas Kedokteran, mulai dari karena alasan klasik untuk memperbaiki masa depan, hanya ikut-ikutan trend dan teman hingga mengikuiti paksaan orang tua. Namun diantara seribu alasan itu, masih ada tersisa dan tersisip tujuan mulia; ingin membantu sesama dan menolong orang yang tak mampu. Artinya, masih ada niat tulus dan murni bagi orang-orang yang ingin menjadi dokter. Jika hal ini digabungkan dengan dengan tujuan pendidikan di Fakultas Kedokteran, dimana mereka akan berproses nantinya, maka idealnya akan melahirkan dokter yang berkebribadian luhur.

Realita
Namun akhir-akhir ini kritikan tajam dan pedas datang mengantam profesi yang mulia ini. Profesi kedokteran yang dulunya dipuja, disanjung dan dinantikan kehadirannnya kini mulai luntur. Bahkan, sudah mulai ada hujatan terhadap profesi ini yang seharusnya berwibawa. Lalu tentunya kita bertanya, mengapa bisa begini?

Tentu banyak yang menjadi penyebab mengapa telah terjadi perubahan atas citra profesi ini. Zaman yang telah berubah, tuntutan masyarakat yang tinggi, sistim pelayanan kesehatan juga merupakan factor yang sangat menentukan.

Namun peran kita (dokter) tidaklah kalah pentingnya. Ibarat pepatah minang mengatakan “Kalau indak ado barado, indak tampua basarang randah,” yang artinya kira-kira sama dengan “Kalau tidak ada api tidak akan ada asap.” Artinya, sumber atau pelaku utama sangat berpengaruh akan efek yang muncul. Dalam hal ini prilaku dokter sangat menentukan bagaimana citra profesi ini.

Memang benar, diantara kita (para dokter) masih banyak yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur profesi, dengan norma agama dan nilai-nilai kemanusian yang dianut. Akan tetapi, kesalahan yang dibuat oleh segelintir sejawat sudah mencemarkan profesi ini. Hukum sosial akan bermain, dimana perbuatan salah oleh dokter adalah suatu yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang seharurnya dimiliki. Ini adalah suatu ‘Kenehan,’ dan keanehan akan menjadi sorotan. Sorotan yang berulang-ulang akan menjadi asumsi umum. Akhirnya, dengan asumsi yang sudah mulai negatif,maka janganlah heran, sedikit saja kekhilafan yang dubuat oleh dokter tidak bisa dimaafkan oleh masyarakat. Maka ini jugalah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya berbagai dugaan malpraktek.

Harus diakui, pada kenyataannya dimata masyarakat profesi kedokteran telah menjadi berubah menjadi seperti sebuah ‘Menara gading.’ Megah-mewah tapi tidak melindungi. Seperti sebuah menara yang hanya dapat diraih oleh orang-orang tertentu. Makin mewah menaranya, makin susah untuk meraihnya, dan makin megah menaranya makin tinggi pula biaya untuk mendapatkannya.

Kalau dilihat lebih jauh, berprilaku sesuai nilai-nilai luhur tidak hanya berdasarkan tuntutan agama dan sosial. Berprilaku professional, mempuyai budi luhur dan menhargai pasien ditegaskan juga pada lafal Sumah Dokter yang diucapkan ketika seorang ‘dilantik’ (judisium) menjadi dokter. Sekedar mnyegarkan ingatan kita, Dari 10 poin sumpah tersebut, ada 3 poin yang secara eksplisit dan tegas berkaitan langsung dengan sikap terhadap pasien. Pada poin pertama diucapkan “Saya membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.” Pada poin 4 “Kesehatan penderita akan saya utamakan, dan pada poin 9 “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Berdasarkan nilai-nilai luhur agama, moral, dan etik, serta sumpah kedokteran tersebut, dokter dituntun untuk bersikap dan bertindak.

Tambahan lagi, pada tahun 2004, telah diundangkan secara spesifik Undang-Undang (UU) tentang Praktek Kedokteran (UU No 29 tahun 2004). Terlepas adanya pro dan kontra akan kelengkapan dan muatan UU tersebut, namun didalamnya sebenarnya hanya menegaskan akan arti pentingnya ‘Prilaku Profesional”; yakni mengerti dan mentaati aturan administratif, dan menghormati hak dan tanggung jawab pasien.

Akhir kata, penulis menyampaikan bahwa tulisan ini hadir sebagai autokritik pribadi buat profesi dokter (kita): buat saya dan anda para sejawat dokter semuanya. Tidak ada maksud lain, kecuali ingin merubah diri dan mengajak sejawat semua untuk kembali dan senantiasa manjunjung tinggi nilai-nilai luhur profesi. Yang akhirnya mengembalikan citra dan kewibawaan profesi ini. Semoga…!

Wassalam & Banyak Maaf,
Hardi

Note: Nanti tulisannya disambung: digali sedikit penyebabnya (dengan Judul: Merubah Citra dan Paradigma Profesi dan Pelayanan Kesehatan), juga Bagaimana kabar & keadaan profesi dokter di negara-negara tetangga sbg perbandingan bagi kita.

No comments:

Mari Dapatkan Keuntungan Disini

Copy Right: Hardisman 2007